Berita AC MilanLegendaPendapat / Opinion

Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan

Artikel ini adalah terjamahan dari dialog antara Paolo Maldini dan Jamie Carragher yang dicatat oleh Dominic King untuk Daily Mail. Diterjemahkan oleh: @adipulomanan

Paolo Maldini adalah salah satu pesepakbola terbaik sepanjang masa. Selama karirnya yang cemerlang dengan AC Milan, klub satu-satunya yang ia bela, ia telah menjalani 902 pertandingan dan memenangkan 26 gelar penting, termasuk lima Piala Eropa (Piala/LigaChampions). Dia juga telah bermain 126 kali untuk tim nasional Italia.

Pekan ini Maldini mengundang Jamie Carragher dari Sportsmail ke kediamannya di Milan untuk sebuah wawancara yang jarang ia mau lakukan. Dia tidak memajang satupun piala di rumahnya dan foto-foto yang ada di dinding hanyalah foto-foto keluarganya.

Namun, rasa cintanya untuk sepakbola, jelas masih ada dan perbincangan antara Maldini dan Carragher, seorang musuh lama dari kemenangan Liga Champions Liverpool di Istanbul, memberikan pencerahan kepada kita.
CARRAGHER: Kita ketemu lagi disini 10 tahun setelah pertama kali saling berhadapan di final Liga Champions. Sekarang banyak hal sudah berbeda dari keadaan di tahun 2005 dan tim kita berdua (Milan dan Liverpool) sama-sama tengah berjuang menjalani musim yang sulit. Aku merasa sakit saat melihat Liverpool kalah – apakah anda merasakan hal yang sama dengan Milan?

MALDINI: Tentu! Aku mulai bermain disana saat masih berusia 10 tahun dan mengakhiri karirku saat berusia 41 tahun. Ayahku, Cesare, juga kapten Milan, anak-anaku sekarang bermain untuk tim akademi Milan sekarang. Milan bukan hanya sekedar sebuah tim bagiku. Milan adalah bagian hidupku. Keluargaku mencintai warna rossonero. Tapi anda tahu?

Saat aku melihat Milan (sekarang), aku merasa sedih. Dulu kami dengan para pemain hebat lainnya telah membangun sebuah identitas yang unik di Milan dan mereka (manajemen) tidak menyadari pentingnya para (mantan) pemain itu dan orang-orang yang terlibat didalam tim.

Hanya Franco Baresi yang bekerja untuk Milan (di jajaran manajemen) sekarang. Tidak ada mantan pemain lainnya. Itu menyedihkan. Milan memiliki sebuah tradisi hebat dan mereka sama sekali mengabaikannya. Sehingga generasi baru, mereka tidak paham. Milan memiliki sejarah besar, tapi kini semuanya berbeda.
CARRAGHER: Saat sedang menonton (pertandingan Milan), apakah anda merasa bahwa anda ingin menolong tim?

MALDINI: Ingin sekali! Aku mendapatkan banyak kebaikan dari klubku. Aku memberikan mereka perhatian dan tubuhku karena sekarang aku sudah tidak mampu berjalan [tertawa]! Tapi aku ingin membalas kebaikan itu, memberikan mereka pengalamanku. Para pemain Milan sekarang sebenarnya tidak buruk tapi mereka membutuhkan seseorang yang bisa memberikan mereka jalan yang benar untuk diikuti… tapi menurutku itu gak akan terjadi.

CARRAGHER: Saat aku tumbuh besar, Milan adalah tim yang hebat. Dulu aku menonton tim Milan asuhan Arrigo Sacchi dan Fabio Capello di TV setiap saat. Minggu lalu, saat aku berada di Madrid, aku melihat Sacchi dan dia berbicara tentang anda dan tim Milan-nya. Pengaruh apa yang dia miliki terhadap anda?

MALDINI: Sacchi pelatih yang sangat keras. Cara latihannya agak gila. Dia akan membuat para pemain bekerja keras (secara fisik), kemudian dia akan mendoktrin pikiran mereka. Dia akan menyuruh para pemain mengulang-ulang hal yang sama terus menerus, khususnya para bek.

Setiap hari kami melakukan hal yang sama. Tapi jika aku, Baresi, (Alessandro) Costacurta dan (Mauro) Tassotti bertemu kembali sekarang, kami akan masih mampu bermain seperti dulu di tahun 1990-an. Pelajaran Sacchi masih menempel di kepala kami. Itu salah satu rahasia keberhasilan kami.

Kerja dan latihan keras itu membantu Milan sukses dalam jangka panjang. Tim Sacchi bermain di level ini [mengangkat tangan di udara] dalam waktu yang lama. Aku memenangkan gelar Champions pertamaku di tahun 1989 dan aku memenangkan gelar terakhirku 18 tahun kemudian. Tapi sekarang? Sayang sekali.

Paolo Maldini Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena dan Milan Image 1
Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan

CARRAGHER: Paolo, boleh kita bicara tentang Istanbul?!

MALDINI: Ya, tentu saja! Aku gak bisa tidur selama tiga bulan setelah final itu tapi, ayolah, silahkan.

CARRAGHER: Apakah pertandingan itu masih dibicarakan orang di Milan?

MALDINI: Ya, kadang-kadang. Jika anda melihat babak pertama, anda gak akan membayangkan kami akan kalah. Tapi kadang orang tidak ingat – and akan ingat karena anda mengalaminya – bukan hanya di babak pertama kami bermain bagus.

Hanya enam menit yang gila. Setelah itu, kami mulai main bagus lagi dan kami memiliki banyak peluang untuk mencetak gol. Aku ingat Steven Gerrard main sebagai bek. Para pemain di tim anda sudah hancur secara fisik saat itu.

Paolo Maldini Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena dan Milan Image 3
Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan

CARRAGHER: Aku menonton final Piala Champions saat anda mengalahkan Steaua Bucharest 4-0 di Barcelona tahun 1989. Apakah anda tampil lebih baik di Istanbul?

MALDINI: Di Istanbul kami sudah bermain sebaik mungkin. Kejadian gilanya adalah saat kami tiba di Milan para fans sudah menunggu kami. Mereka meneriaki kami: ‘Apa yang kalian perbuat?!’ Padahal kami sudah bermain habis-habisan.

Mungkin kami memainkan final terbaik kami malam itu, dengan pengecualian final tahun 1994 (menang 4-0 atas Barcelona). Tadinya kupikir itu kesempatan terakhirku untuk memenangkan gelar Champions-ku (yang ke-5) dan kesempatan itu telah hilang. Dan itu adalah pertandingan yang gila. Aku mencetak gol — Aku mencetak gol! Dan itu gol tercepat dalam final CL!

Paolo Maldini Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena dan Milan Image 4
Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan

CARRAGHER: Saat turun minum, anda sudah unggul 3-0. Apakah anda percaya bisa semudah itu?

MALDINI: Aku tahu ada cerita beredar bahwa kami sudah melakukan selebrasi saat turun minum. Anda tahu mustahil kami melakukan itu. Saat kami masuk ke ruang ganti suasananya gila.

Para pemain Milan saling berteriak, seperti mereka sedang bertengkar. Jadi Ancelotti memandangi kami dan berkata: ‘Diam! Selama lima menit, aku tak ingin mendengar siapapun bicara! Aku tak ingin mendengar satu katapun!’

Jadi kami benar-benar diam, kami menenangkan diri dan kemudian kami mulai bicara tentang hal-hal positif yang kami telah lakukan di babak pertama, apa saja yang kurang baik dan kami mulai berpikir tentang babak kedua. Itulah yang terjadi. Dalam hati, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Kita punya peluang besar’, tapi aku tidak bilang apapun. Begitu juga yang lain.
CARRAGHER: Jika kita tengah tertinggal 3-0 dari tim yang kita tahu tidak lebih baik dari tim kita, kita selalu punya peluang (untuk membalikkan keadaan). Tapi ini AC Milan! Saat itu sudah terpikir olehku: ‘4-0 Barcelona; 4-0 Steaua Bucharest; kami bisa kalah 5-0 atau 6-0.’ Menurut anda apa yang berubah malam itu?

MALDINI: Anda tahu, sesuatu terjadi di babak kedua – fans tim anda. Mereka mulai bernyanyi dan bernyanyi. Jangan lupa biasanya rasio penonton adalah 50-50 tapi saat itu 75 persen fans Liverpool, 25 persen fans Milan.

Fans kami (ultras Milan) menjual tiket jatah mereka kepada fans Liverpool. Aku ingat gol pertama Liverpool. Aku bisa melihat Gerrard dan Jaap Stam dan tadinya aku ingin berteriak: ‘Awas! Dia datang!’ Tapi kemudian aku tidak bilang apa-apa. Lalu bola masuk ke gawang dan Gerrard mencetak gol. aku bicara kepada diriku sendiri: ‘Sial! Kenapa gak bilang?’

CARRAGHER: Apakah gol kedua (dari Vladimir Smicer) menjadi titik balik bagi anda?

MALDINI: Ya. Gol itu membuat perubahan besar. Tiba-tiba, anda cuma perlu 1 gol untuk menyamakan kedudukan. Tapi saat skor menjadi 3-3, kami mulai main bagus lagi dan kami memiliki banyak peluang gol. Psikologi pertandingan dapat berubah saat skor menjadi 3-3. Mungkin karena kita mulai berpikir bahwa ada yang kita pertaruhkan.

CARRAGHER: bagimana menurut anda penampilan Gerrard dalam laga itu? Ia bermain dalam tiga posisi berbeda. Apakah orang-orang masih membicarakannya di Italia?

MALDINI: Aku masih ingat wajahnya dan rasa sakit yang ia rasakan karena kram tapi dia masih saja bisa tampil habis-habisan menekel para pemain kami. Dia mengerahkan segalanya. Bagi tim anda, dia adalah teladan bagi para pemain lainnya.

[Kasus penjualan tiket final CL 2005 oleh ultras Milan kepada fans Liverpool jadi salah satu sebab buruknya hubungan Maldini dan ultras Milan, yang memuncak di laga perpisahannya.]

CARRAGHER: Pasti sangat sulit rasanya bagi anda saat melihat kami merayakan kemenangan. Ada sebuah foto anda menjabat tanganku. Bahkan setelah memenangkan begitu banyak gelar, aku masih bisa melihat rasa pedih di wajah anda, tapi anda masih mampu menunjukkan bahwa anda pemain berkelas dengan reaksi anda.

Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan
Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan

MALDINI: Kita harus mampu menerima hasil pertandingan, sekalipun itu hasil yang menyedihkan bagi kita. Tapi kami sangat beruntung karena dua tahun kemudian kami mendapatkan kesempatan untuk balas dendam. Kami tidak tampil bagus di Athena tapi kami menang.
CARRAGHER: Apakah di tahun 2007 anda berharap bertemu Liverpool lagi setelah apa yang terjadi (di Istanbul)?

MALDINI: Tidak. Tentu tidak! Kami tidak bermain bagus di final itu. Bahkan kami tidak tampil bagus sepanjang musim itu, tapi saat kami mulai mencapai perempat final penampilan kami mulai membaik.

Tetap, di final itu, kami mempertaruhkan segalanya. Jika kalah lagi dari Liverpool itu akan jadi tragedi bagi kami. Tapi kita tidak bisa memilih-milih lawan. Aku tidak tampil selama tiga bulan sebelumnya (karena cedera) dan di laga final itu lututku terasa sakit sekali.

Aku tak bisa tampil di laga itu dan Ancelotti tahu itu. Tapi aku berusaha. Aku minum banyak sekali obat pereda nyeri selama tiga bulan itu! Dan lucunya – aku tidak ingat banyak tentang pertandingan itu.

AC MILAN v LIVERPOOL FC. CHAMPIONS LEAGUE FINAL. OLYMPIC STADIUM, ATHENS, GREECE. 23/05/2007 [PIC] ANDY HOOPER. FILLIPO INZAGHI SCORES HSI 2ND GOAL (2-0)
AC MILAN v LIVERPOOL FC. CHAMPIONS LEAGUE FINAL.
OLYMPIC STADIUM, ATHENS, GREECE.
23/05/2007 [PIC] ANDY HOOPER.
FILLIPO INZAGHI SCORES HSI 2ND GOAL (2-0)
23/5/2007.ATHENS.LIVERPOOL V AC MILAN.FINAL .CHAMPIONS LEAGUE.STEVEN GERRARD AND MALDINI PIC DAVE SHOPLAND
23/5/2007.ATHENS.LIVERPOOL V AC MILAN.FINAL .CHAMPIONS LEAGUE.STEVEN GERRARD AND MALDINI
PIC DAVE SHOPLAND

CARRAGHER: Aku juga sama. Aku tak pernah menonton video pertandingan itu. Tak sekalipun. Saat kita kalah dalam pertandingan sepenting itu…….

MALDINI: Satu-satunya momen yang aku ingat adalah saat aku mengangkat piala. Kami merayakan kemenangan selama 36 jam. Setelah pesta usai, aku langsung pergi menemui dokter bedah di Belgia. Aku tidak bisa merasakan lututku.

Yang paling kuingat adalah siuman setelah anastesi, mungkin sekitar 24 jam kemudian. Aku mulai berpikir dalam hati, ‘Apakah aku menang? Apakah aku menang?’ Sepuluh detik kemudian. . . ‘Ya! Kami menang!’ Pengalaman gila.

Paolo Maldini Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena dan Milan Image 5
Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan

CARRAGHER: jadi itu final ke-delapan dan kemenangan ke-lima anda. Yang mana kemenangan terbaik anda?

MALDINI: (Francisco) Gento juga main dalam delapan final (untuk Real Madrid), tapi dia menang enam kali. Tapi rekorku tidak terlalu buruk lah! Masing-masing kemenangan berbeda.

Gelar pertama istimewa karena itu yang pertama. Kami bermain di Barcelona di hadapan 90,000 pendukung Milan. Tiba di stadion saat itu adalah pengalaman terhebat dalam hidupku. Sama seperti adna di Istanbul. Hebat, hebat. Kemudian kemenangan atas Barcelona di Athena juga sangat bagus.

Paolo Maldini Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena dan Milan Image 10
CARRAGHER: Tim Milan mana yang menurut anda terbaik? Tim 1989 dengan Marco van Basten dan Ruud Gullit or tim lima tahun kemudian (1994)?

Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan
Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan

MALDINI: Semua dimulai dengan Sacchi. Lalu ketiga pemain Belanda datang. Tapi saat Capello datang, kami memiliki banyak pemain hebat. Dari 1991-94 itu mungkin yang terbaik. Setiap tahun kami membeli pemain besar. Kami punya Gullit di kanan dengan Tassotti di belakangnya. Van Basten, (Daniele) Massaro, (Jean-Pierre) Papin, (Zvonimir) Boban, (Dejan) Savicevic. Wow. Tim itu sangat istimewa.

CARRAGHER: Apakah Van Basten pemain terbaik yang menjadi rekan atau lawan anda?

MALDINI: Oh ya. Kaki kanan. Kaki kiri. Sundulan, sangat kuat, cepat. Dia bisa mencetak gol, dia bisa mengumpan. Dialah yang terbaik. Caranya bermain tak lekang oleh waktu. Dia terpaksa pensiun di usia 28 tahun. Operasi. Operasi bodoh di engkelnya. Sangat disayangkan.
CARRAGHER: Dan bagaimana dengan bek terbaik? Seberapa besar pengaruh Baresi terhadap anda? Apakah dia boss lini belakang? Apa yang membuatnya istimewa?

MALDINI: Itu dia. Dia istimewa. Dia pendek, kurus tapi sangat kuat. Dia bisa melompat sangat tinggi. Caranya bermain di lapangan adalah contoh bagi setiap pemain. Dia tidak banyak bicara, sama sekali tidak. Dia memberi teladan dari caranya bermain, dan caranya berlatih.

Dia tidak seperti Stam, pria besar yang juga kuat dan cepat. Baresi cepat, tapi berat badannya cuma 70kg. Tapi jangan salah — saat dia menghajar pemain dengan tekelnya, dia sangat kuat.

Bagiku, dia adalah teladan. Dia adalah rujukan. Dia juga sangat bagus saat menguasai bola. Sangat, sangat bagus. Sangat sulit menemukan bek yang bagus, yang kuat dan juga mahir menguasai bola. Sangat sulit.
CARRAGHER: Di Inggris, saat aku masih kecil, anak-anak yang bercita-cita menjadi bek akan menyebut nama anda atau Baresi. Ada pemain lain seperti Lilian Thuram, Marcel Desailly dan Fabio Cannavaro. Bagaimana menurut anda standar bek bagus sekarang?

MALDINI: Sekarang sudah tidak ada lagi bek (bagus). Seorang bek yang bagus akan lebih laku di pasar transfer dibandingkan striker. Juga anda tahu apa yang terjadi sekarang? Dulu aku bermain sebagai bek kiri. Sekarang seorang bek kiri dinilai hanya dari kemampuannya mengolah bola.

Orang-orang tidak berpikir tentang kemampuannya bertahan. Mereka hanya focus pada apa yang bek kiri bisa lakukan saat menyerang. Aku tahu bahwa bagian tersulit bagi seorang bek kiri adlah bertahan. Aku tahu itu karena dengan Sacchi semua pemain harus mampu bertahan, dari striker sampai kiper.

Di Italia, dulu kami memiliki tradisi yang hebat bagi para pemain bertahan, tapi sekarang tradisi itu sudah hilang. Aku tidak tahu kenapa. Aku yakin bahwa Thiago Silva adalah bek terbaik di dunia saat ini.

CARRAGHER: Apakah anda pernah punya kesempatan datang (dan berkarir) di Inggris dan apakah ada sedikit penyesalan anda tidak pernah berkarir di Inggris? Semua orang akan senang menyaksikan anda beraksi di Premier League.

MALDINI: Aku mendapatkan tawaran dari Manchester United, tapi aku tidak bicara langsung dengan mereka. Luca Vialli, saat dia melatih Chelsea, menelponku. Itu di tahun 1996. Milan menjalani musim yang buruk. Ada juga tawaran dari Arsenal, tapi aku tidak pernah bicara dengan mereka secara langsung.

Lagipula aku akan tetap menolak. Vialli adalah temanku dan dialah satu-satunya orang yang mampu membuatku mempertimbangkan tawaran ke Inggris. Aku sedang punya masalah dengan timku dan para fans saat itu. Aku sempat berpikir, hanya satu hari, ‘Bagaimana jika?’ Tapi kemudian, tidak.

CARRAGHER: Anda juga punya kesempatan untuk melatih Chelsea.

MALDINI: Tawaran itu datang hanya satu minggu setelah pertandingan terakhirku untuk Milan. Aku tidak siap. Aku tidak ingin memindahkan keluargaku ke London. Aku pergi ke London. Aku bicara dengan Abramovich. Aku bicara dengan Ray Wilkins, yang juga pernah main bersamaku di Milan. Entahlah. Aku memutuskan untuk menolak tawaran-tawaran itu.
CARRAGHER: Jadi apa pendapat anda tentang sepakbola di Inggris saat ini? Dan apakah menurut anda klub-klub Italia akan mendominasi kembali seperti di tahun 1990-an?

MALDINI: Ya, aku nonton Liga Inggris. Masih bergaya Inggris. Tim-tim kalian masih kuat secara fisik. Kalian punya tim seperti Manchester City dan Liverpool dan mereka bermain dengan gaya penguasaan bola. Tapi Liga Inggris masih sepenuhnya berbeda dengan liga-liga lain.

Ada banyak pemain bagus yang tidak dapat bermain disana karena liga kalian terlalu kuat secara fisik. Bagi klub-klub Italia, akan butuh waktu lama. Kami kekurangan dana, dan kondisi stadion disini sangat buruk. Kami harus menyelesaikan masalah kekerasan supporter. Para keluarga dan anak-anak mereka tidak mau lagi datang ke stadion.

Mereka bilang Milan sedang berusaha membangun stadionbaru, tapi aku tak tahu apakah itu akan terjadi. Aku juga yakin Milan membutuhkan stadion yang lebih besar daripada hanya 45,000 kursi. Milan butuh setidaknya 60,000 kursi jika ingin kembali berjaya. San Siro masih indah, tapi sudah sangat tua.

Paolo Maldini Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena dan Milan Image 9
Paolo Maldini : Misteri Terungkap Dibalik Istanbul, Athena & Milan

CARRAGHER: Tapi aku ingin melihat Milan kembali bangkit – sekarang hanya nama, jersey, sejarah. Aku merasakan hal yang sama tentang Liverpool.

MALDINI: Aku ingin melihat itu juga. Semua rival historis kami, Real, Barcelona, Liverpool – aku ingin melihat Milan diatas sana. Menyenangkan rasanya bertanding melawan tim-tim dengan sejarah besar ini. Sangat sedih rasanya saat kita melihat mereka terpuruk.

CARRAGHER: Jika anda tidak tahu tentang masa depan Milan, bagaimana dengan masa depan anda? Anda baru saja meluncurkan sebuah proyek di Miami, tapi apakah anda akan jadi seorang manajer?

MALDINI: Tidak. Aku tidak suka jadi manajer. Aku masih nonton sebagian besar pertandingan Milan dengan teman-temanku. Aku mencintai sepakbola. Tapi mungkin aku tak akan bekerja untuk Milan. Untuk saat ini, aku sepenuhnya ingin jadi ayah yang baik. Tapi jika ada kesempatan untuk bekerja lagi dengan Milan? Bagiku itu akan jadi kesempatan untuk membalas jasa.

Sumber Utama : http://www.dailymail.co.uk/sport/football/article-3093184/Paolo-Maldini-talks-Jamie-Carragher-night-Istanbul-reveals-close-joining-Manchester-United.html

Diterjemahkan oleh : http://thisisapm.blogspot.com/2015/05/paolo-maldini-kisah-di-balik-istanbul_82.html

Tags

Related Articles